Armada Damkar Berau Terancam Lumpuh, Petugas Patungan BBM dan Perbaiki Mobil Pakai Uang Pribadi Demi Tetap Selamatkan Warga
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di balik cepatnya respons petugas pemadam kebakaran saat terjadi kebakaran maupun evakuasi darurat di Kabupaten Berau, tersimpan persoalan serius yang kini membayangi pelayanan keselamatan masyarakat. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau saat ini berada dalam situasi sulit akibat belum rampungnya proses pengalihan aset kendaraan operasional dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau.
Kondisi tersebut
membuat sejumlah armada Damkar berada di ambang lumpuh operasional. Pasalnya,
kendaraan yang setiap hari digunakan petugas untuk melayani masyarakat hingga
kini masih berstatus aset BPBD secara administratif. Akibatnya, Disdamkarmat
tidak dapat menggunakan anggaran resmi untuk melakukan pemeliharaan maupun
perbaikan kendaraan.
Padahal, armada
tersebut menjadi ujung tombak pelayanan darurat, mulai dari penanganan
kebakaran, evakuasi ular dan tawon, hingga berbagai misi penyelamatan lainnya.
Kepala Disdamkarmat
Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengungkapkan kondisi ini sudah mulai berdampak
terhadap kesiapan armada di lapangan. Beberapa kendaraan bahkan dilaporkan
mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan secara maksimal.
“Saat ini untuk
peralihan masih jauh, kita masih menunggu dari Pak Sekda dan belum ada
dilakukan peralihan. Sementara untuk pemeliharaan kita masih terkendala. Kalau
ini berlarut-larut dan berkepanjangan, ada potensi ketidakadilan pelayanan bisa
terjadi,” ujarnya.
Menurutnya, secara
fungsi seluruh kendaraan saat ini memang berada di bawah kendali Damkar dan
digunakan penuh untuk merespons laporan masyarakat. Namun karena belum ada
pelimpahan aset secara resmi, pihaknya tidak memiliki dasar hukum untuk
mengeluarkan anggaran pemeliharaan.
Situasi itu membuat
para petugas berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, pelayanan kepada
masyarakat tidak boleh berhenti. Namun di sisi lain, armada yang digunakan
terus mengalami penurunan kondisi akibat minim perawatan.
Tidak sedikit petugas
yang akhirnya harus mengeluarkan uang pribadi demi menjaga kendaraan tetap bisa
bergerak. Mulai dari membeli bahan bakar minyak (BBM), mengganti oli, hingga
melakukan perbaikan ringan dilakukan secara mandiri agar armada tetap siap digunakan
sewaktu-waktu.
“Misalkan ada
kebakaran atau ada permintaan evakuasi tawon dan ular, apakah tidak kami
gerakkan? Layanan publik harus tetap jalan. Tapi di sisi lain, kami terkendala
perawatan karena aset belum dilimpahkan. Sulit bagi kami karena tidak boleh
memperbaiki menggunakan anggaran resmi,” jelasnya.
Rakhmadi menilai,
jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa kepastian, maka risiko yang dihadapi
bukan hanya kerusakan kendaraan, tetapi juga keselamatan petugas dan masyarakat
yang membutuhkan pertolongan cepat.
Ia mengaku khawatir
apabila armada dipaksakan terus beroperasi tanpa perawatan memadai, maka
kerusakan fatal bisa terjadi sewaktu-waktu di tengah penanganan darurat.
“Kalau dipaksakan
terus tanpa perawatan semestinya, itu bisa berakibat fatal. Secara fungsional
memang kami yang gunakan, tetapi kami tidak bisa memeliharanya,” katanya.
Permasalahan
tersebut, lanjut Rakhmadi, telah beberapa kali disampaikan kepada Pemerintah
Kabupaten Berau, termasuk kepada Sekretaris Daerah, dengan harapan proses
administrasi pengalihan aset bisa segera diselesaikan.
Meski dihantui
keterbatasan armada dan minimnya dukungan pemeliharaan, Disdamkarmat Berau
memastikan komitmen pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama.
Para petugas tetap bersiaga 24 jam demi memastikan setiap laporan darurat dapat
ditangani secepat mungkin.
Namun di balik
dedikasi itu, mereka berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah
konkret sebelum armada penyelamat yang selama ini menjadi harapan warga
benar-benar berhenti beroperasi akibat persoalan administrasi yang tak kunjung
selesai. (sep/FN)